Tuesday, April 16, 2019

Perjuangan Karin Sebagai Stay Home Mom



"Aku belajar tinggi-tinggi justru jadi bekalku untuk bisa berpikir gimana aku bisa mendidik anakku dengan baik" - Karina Wargadibrata


Apakah menjadi stay home mom merupakan keputusanmu sendiri atau keadaan?
Keputusan aku berdua sama suamiku. Sebenernya lebih cenderung ke aku sih. Alhamdulillahnya suamiku sangat mengizinkan dan mendukung aku dengan sangat-sangat baik.

Pertimbangan pertama aku: aku dan suami dari menikah memutuskan untuk tinggal sendiri terpisah dari orang tua karena mau belajar mandiri. Alhamdulillah ada rejekinya untuk merealisasikan itu. Aku dan suami juga cukup jauh tinggalnya sama orang tua ku, dan mertuaku juga tinggal di luar kota. Dari mulai menikah, aku cukup terbiasa untuk ngelakuin semua hal sendiri. Dari aku hamil, sampe sekarang Shana (re: anaknya Karin) mau 4 tahun, aku bisa survive tanpa bantuan pengasuh/suster yang jaga Shana dan aku ngerasa itu sebuah accomplishment dan juga jadi kepuasan untuk diri aku sendiri.

Pertimbangan kedua aku: aku serem liat pergaulan jaman sekarang dan parno gara-gara liat di medsos banyak suster yang kadang jahat banget sama anak. Apalagi aku punya anak perempuan jadi kayanya jagainnya mesti extra. Aku sama suami juga percaya ada salah satu orang tua di rumah akan lebih baik untuk anak kita karena ada yang lebih aware dan menjaga dia dari lingkungan sekitar dia yang kita gak tau dan gak bisa kita control.

Bagaimana tanggapamu terhadap perkataan: udah susah-susah sekolah tinggi, kok ujung-ujungnya cuma ngurus anak di rumah?

Aku pernah ikut seminar tentang parenting sama psikolog tumbuh kembang anak. Kalo ada istilah anak itu adalah cerminan orang tua. Aku percaya semua yang dilakukan anak aku (baik atau buruk) itu adalah hasil dari didikan orang tua dan aku sebagai ibu yang sama anakku 24 jam bertanggung jawab akan apa yang sudah aku contohkan dan ajarkan ke anak aku. Jadi menurutku, gak ada istilah sayang ilmunya. Karena ilmu itu sifatnya abadi menurutku. Aku belajar tinggi-tinggi justru jadi bekalku untuk bisa berpikir gimana aku bisa mendidik anakku dengan baik karena orang yang paling deket sama dia adalah aku dan suami. Terlebih aku yang porsi untuk sama anakku lebih banyak, aku bagi anakku adalah istilahnya sumber ilmu paling utama dan yang paling dekat bagi anak. Aku percaya semakin pintar ibu nya aku yakin bisa ngebekalin anak dengan ilmu dan pengetahuan yang lebih baik dan berkualitas.

Apa yang orang-orang gak tahu tentang perjuangan seorang stay home mom?
Bahwa sebenernya "enak ya dirumah ga stress mikirin kerjaan atau deadline dan target di kantor dan bisa sambil istirahat" itu adalah sebuah understatement. Kita dirumah, apalagi aku ga punya suster dari semenjak lahiran, pas hamil gede pun pernah berbulan-bulan gak ada mbak di rumah sama sekali dan masih nyupir sendiri (jangan dicontoh ya bahaya!) aku mesti struggling pinter-pinter bagi waktu untuk bisa ngerjain banyak hal dalam waktu bersamaan. Ngurusin Shana full: makannya, mandi, belajar, sekolah, main sama dia juga, dan harus bagi waktu juga buat aku ngurusin urusan domestik rumah, ngurusin suami, belum lagi ngurus diri sendiri supaya tetap waras dan sehat. Aku banyak belajar untuk jadi orang yang lebih efisien, dan bener-bener belajar time management lebih-lebih dari waktu aku masih ngantor. Cuma, itu semua kadang masih dipandang sebelah mata karena mungkin hasilnya sebaik apapun itu gak keliatan bagi orang lain yg gak ada diposisi kita. Lain halnya seperti kerja kantoran yang ada tolak ukur atas pekerjaan yg kita lakukan.

Apa pandanganmu terhadap working mom, dan pernahkah kamu ngerasa kepengen kerja kantoran (lagi)?
Aku salut banget-banget sama working mom. Menurut aku mereka tipe yg bener-bener mentally strong banget. Aku tuh tipe cengeng yang gampang mellow kalo pisah sama anak karena emang belom pernah jauh-jauhan sama anak (aku ga pernah pisah sama Shana even for a day, dari dia lahir. Paling lama masih itungan jam). Aku pun banyak temen yang jadi working mom. Banyak cerita kalau mereka suka sedih kadang kalau harus pisah lama sama anaknya padahal tujuannya sama-sama kok, untuk kasih yang terbaik buat anak tapi masih harus dapet stigma jelek dari orang yang gak bisa ngerti sama keputusan mereka. Padahal menurutku semua ibu itu sama. Mau yang terbaik buat anaknya. Tapi cara dan kesempatan yang dimiliki itu beda-beda dan kita ga berhak untuk menjustifikasi itu karena kita ga tau dan merasakan jadi mereka.



Untuk sekarang, kalau pun aku harus bekerja, aku lebih terpikir untuk work from home aja instead of kerja kantoran. Aku masih belum mau dan belum siap kayanya untuk ngubah semua rutinitasnya. Aku masih sangat happy dengan yang aku jalanin sekarang. 
Pernahkah ngerasa nyesel/ bosen menjadi seorang stay home mom? Kalau pernah, bagaimana menanggulanginya, kalau gak pernah, apa alasannya?
Kalau bosen si jujur pernah banget dan sering. Cuma, bukan yang gimana aku lebih ke merasa suntuk sama rutinitas. Tapi balik lagi, ini hal yang aku pilih dan support system utama aku yaitu suami bisa dibilang sangat-sangat mengerti banget kalo aku udah jenuh gitu, suami aku pasti udah tau mesti ngapain untuk boost semangat aku. Suamiku juga tipe yang hands on banget sama anak, dari Shana lahir, dan anakku attach sama papanya juga bagus banget. Jadi kalau weekend, aku sering kok pergi me time sendiri kaya nyalon 2-3jam, nonton sendiri atau sama temen, nonton konser kesukaanku dan akupun tenang ninggalin anak karena anakku "aman" berdua jalan-jalan atau main sama suamiku. Kalau kata suamiku, sekalian suamiku "pacaran" atau quality time berdua sama anakku karena biasanya dia kerja sering sampai malam. Abis itu pastiii banget aku ngerasa refreshed banget kaya buka lembaran baru haha...



Yang kedua, menurut aku punya temen buat berbagi itu penting banget. Semenjak Shana sekolah, aku ketemu circle of moms yang sama banget kaya aku rutinitasnya. Kita sekumpulan young moms (banyak juga yang working moms lho!) yang masalah dihadapinnya itu mirip-mirip. Rata-rata umurnya juga masih sepantaran sama aku, jadi aku berasa ada support group super positive banget untuk kita sharing semua permasalahan jd ibu-ibu muda. Jadi, sambil nunggu anak sekolah, kita suka cari kegiatan bareng-bareng juga kaya olahraga bareng, nyalon bareng, atau ngobrol-ngobrol sambil makan-makan bareng sama mereka. Jadi setiap Shana sekolah, aku juga happy karena bisa ketemu temen-temen.

Apa plus minus sebagai seorang stay home mom menurut pendapatmu?
Plus nya bagi aku pribadi adalah yang pertama waktu dan kesempatan aku untuk quality time sama anak lebih banyak. Aku bisa ngerecord every tiny details about perkembangan anak aku saat itu juga. Karena menurut aku, sekarang ini saat anak masih kecil adalah masa-masa yang sangat-sangat precious dan gak bisa diulang. 



Minusnya, menurutku ya masih akan terus dipandang sebelah mata sama orang karena hasil yang kita dapet itu invisible bagi orang lain.  




Sebagai seorang stay home mom, masih pentingkah pendidikan tinggi untuk wanita?
Sangat penting. Aku semenjak jadi ibu kepengen banget sekolah lagi karena aku pengen jadi ibu yang kaya ilmu supaya aku bisa jadi ibu yang lebih baik lagi buat anak aku.




Apabila anak perempuanmu besar nanti, kamu menginginkan dia menjadi working mom atau stay home mom?
Apapun keputusan anakku aku percaya dia pasti udah mikirin baik-baik. Dua-duanya menurutku sama-sama baiknya dan gak ada yang lebih tinggi posisinya. Intinya tetap menjadi seorang ibu kok. Aku pasti dukung dua duanya.


Thank you sooo much, Karin for sharing :). Jadi, perlu dicatat yaaa, gak ada ilmu yang sia-sia meskipun kalian sekolah setinggi-tingginya. Menjadi stay home home mom atau working mom dua-duanya sama-sama hebat, gak ada strata yang lebih tinggi atau lebih rendah karena mereka sama-sama pengen memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka melalui cara dan perjuangannya masing-masing.

No comments:

Post a Comment