Saturday, April 6, 2019

Menyikapi Pertanyaan "Kapan Hamil?"






Aku tahu ini bakalan berat buat perempuan yang sedang menanti momongan. Kalau kalian salah satunya, mungkin udah pernah berada di fase: santai - kesel - kesel banget - sedih - bosan sampai akhirnya kebal. Meskipun aku ga nyampe setahun untuk menanti kehamilan, aku juga pernah kok ngerasain ditanya-tanya pertanyaan itu setiap hari, padahal aku ga sama sekali nunda. Nah, berikut ada saran-saran yang bisa aku share. 

1. Jawab dengan jawaban yang sama. 
Jawab aja "Yaaaa doain aja..." dan jadikan kalimat itu 'template' di mulut kita atau kalimat yang seolah-oleh kita 'copy - paste' ke semua orang. Kalau om/tante, orang kantor, temen-temen, tetangga, mertua, sepupu, kakek/nenek, ipar nanya, semua jawaban dan intonasinya sama dan gak perlu dibeda-bedain. Dengan kayak gitu, ngebuat kita jadi gak baper dan pertanyaan tersebut terdengar 'biasa' dikuping kita.

2. Tidak nunjukan ke marahan atau bete.
Aku emang gak setuju sama orang yang doyan nanya-nanya pertanyaan itu, tapi percayalah, pertanyaan "kapan hamil" adalah pertanyaan UMUM dan jadi pertanyaan 'HUKUM ALAM' yang selalu orang tanyain ke kita dikala kita baru menikah dan belum mempunyai momongan. Jadi, itu hal yang sangat tidak bisa kita hindari, dan sebaiknya kita gak usah marah, karena ya percuma..... Syukur-syukur kalau orangnya peka setelah denger jawaban kita yang terdengar kesal dia berhenti nanya. Lha tapi kalau dia makin suka ngeliat kita bete gimana? Kita bakalan jadi terlihat pathetic, dan lemah di mata dia. Tanpa kita sadari, itu hal yang bikin mereka seneng. Aku gak mau suuzon, tapi gak sedikit lho orang yang sebenernya baik tapi kadang suka 'iseng' manas-manasin kita dengan ngebahas tentang bayi/kehamilan karena tahu kita bakalan bete. Jadi, lebih baik tutupin rasa 'gak suka' kita dengan menjawab gak pake emosi.

3. Sok Bijak.
Terkadang pertanyaan orang akan beragam dan gak hanya akan berhenti di pertanyaan 'kapan hamil'. Mereka pasti bakal membombardir pertanyaan-pertanyaan jahat ke kita yang pastinya bakal mancing emosi. Tipe orang yang kayak begitu tuh yang 'demen' dan 'menunggu' kita agar marah. Kalahkan mereka dengan jadi wanita strong dan bijak. Jawab dengan santai, tenang, sopan, smart, dan gak pake emosi.

Contoh percakapan antara kita dan emak-emak atau ibu-ibu rese yang gak peka:

"Kapan hamil?"
"Yaaa... Doain aja ya hehe..."
"Emangnya nunda?"
"Engga kok, belum dikasih aja sama Allah." (senyum)
"Cek gih ke dokter, kalian berdua sakit, kali..."
"Ah engga kok, Alhamdulillah aku sama suami sehat-sehat aja. Mertua dan orang tuaku juga sehat semua...." 
"Ya tapi buktinya belum hamil-hamil juga. Emang ngecek di dokter mana? Tetanggaku aja ngerasa sehat eh pas di bawa ke dokter X ternyata suaminya bla bla..."
"Oh gitu.... Aduh, Naudzubilahminzalik... Tapi Alhamdulillah sih aku sama suami sehat-sehat aja. Mungkin aku sama suami disuruh pacaran lebih lama lagi ya sama Allah. Heheheh"
"Ya tapi emangnya ga bosen 'pacaran' mulu sama suami tapi belum ada anak?"
"Alhamdulillah gak bosen sama sekali, Bu. Tergantung siapa suaminya kali ya bu. Suamiku sih orangnya baik banget dan pacaran sama dia seru banget..."
Atau: 
"Kok belum hamil sih? Anakku/si A/ si B/ si C aja baru nikah sebulan udah langsung hamil..."

(Ketawa) "Yaaaa, tubuh orang kan beda-beda ya, Bu... Rezekinya juga kan beda-beda datengnya. Gak bisa dong disama-samain atau di banding-bandingin. Insha Allah aku bakal hamil di timing yang tepat menurut Allah."
"Ya kapan tapi? Udah lama banget kan kamu nikahnya. Udah -sekian- tahun kan.."

(Ketawa lagi) "Masya Allah ternyata aku sama suamiku langgeng juga ya. Gak kerasa lho bu. Alhamduillah pernikahan kami bahagia banget meskipun belum dapet momongan. Doain aja makanya, Bu... Jodoh, rezeki, sama umurkan udah diatur sama Allah. Kita mah sebagai manusia ikhtiar aja...."
"Emangnya gak pengen ya punya anak?"

"Ya Allah, ya pengen lah bu. Siapa sih yang ga pengen (senyum). Aku sama suami selalu berusaha dan berdoa bareng-bareng kok. Tapi kayaknya kami lagi dikasih rezeki-rezeki yang lain. Jangan sampai deh aku dan suami lupa buat bersyukur sama rezeki-rezeki lain karena belum dikasih momongan. Insha Allah nanti ada waktunya dikasih rezeki anak. Doain ya bu..."
Udah deh sekakmat. Mereka bakalan cape sendiri nimpal-nimpalin jawaban kita yang selalu tenang, positif, dan gak kesulut emosi. Gak apa-apa pakai topeng atau 'fake' di depan orang, demi ngejaga perasaan dan harga diri kita sendiri. Kalau udah gak kuat, curhatnya mending ke suami atau ke Tuhan aja, gak usah ke orang-orang dan sosial media karena mereka gak bisa bantu apa-apa juga....

4. Positive Thinking
Setiap orang yang udah mulai nanya pertanyaan yang nyakitin hati kita, berpikir aja bahwa dosa kita lagi diapus. Semakin orang nge julid atau nge dzolim in kita, kalau kitanya sabar, Insha Allah bakalan jadi ladang pahala buat kita. Jadiin aja ini tuh semacam 'pelatihan' supaya kita bisa jadi orang yang mentalnya kuat, dan lebih bijaksana menghadapi orang. Liat juga rezeki-rezeki lain disekitar kita. Kita dikasih rezeki suami yang baik, kesehatan, keadaan ekonomi yang tercukupi, rumah tangga yang bahagia, jangan sampai pertanyaan dari orang-orang julid ngerusak rasa syukur kita kepada Tuhan.

So yea, itu tadi saran yang bisa aku kasih buat kalian yang sedang menanti momongan, tapi selalu 'diusik' sama pertanyaan yang bahkan kita aja gak tahu jawabannya. Terus berikhtiar, berusaha dan ber positive thiniking kepada Tuhan, karena:

“God has perfect timing: never early, never late. It takes a little patience and a whole lot of faith, but it’s worth the wait.”

No comments:

Post a Comment